Guru Minta Maaf setelah Tampar Siswanya

Antara    •    Jumat, 26 Oct 2018 19:09 WIB
Kekerasan di Sekolah
Guru Minta Maaf setelah Tampar Siswanya
Ilustrasi kekerasan seksual, Medcom.id

Surabaya: Seorang guru di sebuah SMP Negeri di Surabaya, Jawa Timur, melakukan tindak kekerasan pada siswanya. Ia pun mengakui perbuatannya dan memohon maaf.

"Beliau, guru itu sudah mengaku melakukan hal itu. Beliau juga mengaku khilaf," ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Ikhsan, saat jumpa pers di Pemerintah Kota Surabaya, Jumat, 26 Oktober 2018.

Ikhsan mengatakan berkomunikasi dengan anak yang ditampar guru. Ia juga menyampaikan permohonan maaf pada orang tua korban. Disdik, ujar Ikhsan, mengerahkan psikolog untuk mendampingi siswa. 

Menurut guru, ujar Ikhsan, tindakan itu dilakukan untuk mendisiplinkan siswa tersebut. Tapi, Ikhsan mengaku proses pendisiplinan itu tidak dibenarkan.

"Sebab ini adalah lembaga pendidikan, maka seharusnya proses pendisiplinan (siswa) itu harusnya yang edukatif," kata Ikhsan.

Ikhsan menegaskan guru telah diskors dan dibina. Tugasnya pun telah dialihkan.

"Beliau sudah kami skorsing untuk tidak mengajar lagi. Saat ini, dia kami alihtugaskan menjadi staf di Dinas Pendidikan," katanya.

Kepala Inspektorat Kota Surabaya, Sigit Sugiharsono menyampaikan terkait insiden tersebut, pihaknya akan mengambil langkah tegas dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010. Nantinya, oknum guru tersebut akan diperiksa oleh atasan langsung yakni Kepala Dispendik Surabaya.       

"Nanti kita mengatur dengan PP Nomor 53 tahun 2010. Intinya akan diperiksa oleh atasan langsung. Jika sanksinya (kategori) berat, maka selanjutnya akan diperiksa oleh Wali Kota Surabaya," kata Sigit.

Menurutnya, kalau dilihat dari hasil penilaian di lapangan, pelanggaran yang dilakukan oknum guru tersebut masuk dalam kategori berat sebab dalam sebuah lembaga pendidikan proses pendisiplinan siswa seharusnya bisa menggunakan cara-cara yang lebih edukatif.       

"Kalau saya melihat kategori sanksinya berat. Bagaimana pun juga namanya (lembaga) pendidikan tidak begitu," ujarnya.


(RRN)