ACT Kirim 80 Kontainer Beras untuk Rohingya

Syaikhul Hadi    •    Senin, 18 Sep 2017 17:01 WIB
rohingya
ACT Kirim 80 Kontainer Beras untuk Rohingya
Aksi Cepat Tanggap (ACT) Pusat akan mengirim 2.000 ton beras ke pengungsi etnis Rohingya di Bangladesh dan Myanmar. MTVN/Hadi

Metrotvnews.com, Surabaya: Aksi Cepat Tanggap (ACT) Pusat akan mengirim 2.000 ton beras ke pengungsi etnis Rohingya di Bangladesh dan Myanmar. Pengiriman 80 kontainer beras dari lumbung pangan Blora dilepas di Tanjung Perak Surabaya Selasa, 19 September 2017.

Manager Komunikasi ACT Pusat Lukman Aziz Kurniawan mengatakan, pengiriman diperkirakan memakan waktu hingga 12 hari kedepan sampai ke Bangladesh. "Bisa jadi nanti sampai kesana tanggal 4 Oktober," ujar Lukman di Surabaya, Senin, 18 September 2017. 

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah Bangladesh terkait pengiriman bantuan tersebut. Sejauh ini, tidak ada kesulitan apapun. Hanya saja proses ijin di Indonesia masih memakai regulasi menerima bantuan. Sedangkan untuk mengirimkan bantuan belum ada regulasinya. 

"Jadi, kita pakai konsep ekspor. Karena memang regulasi di Indonesia belum ada. Regulasinya hanya menerima bantuan," jelasnya. 

Sementara untuk pengiriman ke Rakhine State terkendala kebijakan pemerintah Myanmar. Negara yang dipimpin Aun San Suu Kyi itu menutup segala bentuk bantuan NJO terhadap masyarakat di Rakhine. Sehingga pengiriman dilakukan secara informal. 

"Kita sulit masuk ke sana. Namun, relawan disana sudah mempunyai jalur tikus agar pengiriman bantuan bisa sampai di pengungsian yang sampai saat ini masih dirahasiakan. Dikhawatirkan, menjadi target sasaran mereka," terangnya. 

Sampai saat ini, gudang di pengungsian sudah terisi sekitar 12 ton beras. Jumlah itu diperkirakan cukup untuk satu bulan ke depan. Untuk wilayah Rakhine State dan Bangladesh, ada sekitar 50 relawan ACT baik lokal maupun relawan yang berasal dari Indonesia. Sedangkan jumlah pengungsi diperkirakan mencapai 500 ribuan orang. 

Pihaknya berharap, dengan regulasi yang ada di Indonesia, pemerintah bisa memudahkan bantuan kemanusiaan. Karena hal ini menyangkut nyawa manusia. Hitungan menit per menit, mereka siap mati dengan kondisi tersebut. Sehingga perlu dukungan dan perhatian pemerintah untuk realisasi bantuan terhadap Rohingya. 


(ALB)