Jerih Payah Ismo Menguap di First Travel

Rahmatullah    •    Senin, 28 Aug 2017 16:10 WIB
ibadah umrahkemelut first travel
Jerih Payah Ismo Menguap di First Travel
Kuitansi pembayaran pendaftaran umrah salah satu korban First Travel di Sumenep, Jawa Timur -- MTVN/Rahmatullah

Metrotvnews.com, Sumenep: Sejumlah warga Sumenep, Jawa Timur, juga menjadi korban First Travel. Rata-rata mereka tergiur dengan biaya murah yang ditawarkan biro perjalanan umrah itu.

Ismo Darmono, salah satu korban First Travel, menuturkan, ingin sekali berangkat umrah. Warga Kelurahan Karangduwa, Kecamatan Kota, ini pun mengumpulkan uang hasil kerja serabutan sedikit demi sedikit demi mewujudkan keinginannya berangkat umrah.

Dengan keterbatasan dana, Ismo mencoba mencari informasi umrah di internet. Ketika menemukan informasi yang ditawarkan First Travel, tanpa pikir panjang ia memutuskan mendaftar umrah.

"Informasi yang saya dapatkan di internet, First Travel sudah memberangkatkan banyak jemaah dengan fasilitas bagus. Dan yang pasti, biayanya murah dibandingkan dengan travel lain," kata Ismo di Sumenep, Senin 28 Agustus 2017.

(Baca: Calon Jemaah Umrah First Travel Meninggal Diduga karena Malu)

Pada 8 April 2016, Ismo mentransfer uang pendaftaran umrah ke First Travel sebanyak Rp14,3 juta. Ia sangat berharap bisa segera berangkat umrah.

Namun, Ismo harus menelan kecewa saat mendengar First Travel ternyata bermasalah. "Saya kebetulan punya penyakit diabetes. Karena mendengar kabar itu, penyakit saya tambah parah. Bahkan, saya sempat dirawat di salah satu rumah sakit di Surabaya selama tiga bulan lebih," terangnya.

Ismo berharap, uang yang sudah ia setorkan ke First Travel bisa kembali. Ia minta pemerintah bisa turun tangan terkait pengembalian uang calon jemaah.

(Baca: Korban First Travel Minta Polda Buka Posko Pengaduan)

Didik Wahyudi, korban First Teavel lainnya, mengaku, tidak menyangka harus memendam mimpinya berangkat umrah dengan First Travel. Janji pemberangkatan pada Februari 2017 tidak pernah terwujud.

"Saya sangat berharap Bareskrim Polri dan pemerintah segera mengatasi masalah ini. Paling tidak uang dikembalikan atau kami segera diberangkatkan," tutupnya.

 


(NIN)