Khofifah: Radikalisme Kaum Perempuan Harus Direduksi

Rahmatullah    •    Minggu, 08 Oct 2017 23:13 WIB
radikalisme
Khofifah: Radikalisme Kaum Perempuan Harus Direduksi
Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa. (Foto: MTVN/Rahmatullah).

Metrotvnews.com, Sumenep: Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa mengaku kaget dengan pelaku bom bunuh diri Paris yang ternyata seorang perempuan. Dia prihatin atas realitas 'pengantin bom' seorang perempuan. 

"Beberapa yang terinisiasi sebagai bomber atau pengantin di Eropa dan Indonesia ternyata perempuan," terang Khofifah di sela-sela Hari Perdamaian Internasional di Sumenep, Jawa Timur, Minggu 8 Oktober 2017.

Dia berharap, stigma radikalisme kalangan perempuan itu harus direduksi. Saat menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Khofifah mengupayakan perempuan untuk menjadi juru damai.

Waktu itu, dia intens berkomunikasi dengan perempuan-perempuan Aceh dan Ambon. Harapannya, kaum perempuan muncul sebagai pionir sebagai juru damai.

Di sisi lain, Khofifah bersyukur adanya pondok pesantren yang dikolelola warga NU yang sudah menginisiasi garis tengah atau moderasi. Nilai-nilai moderasi itu terinternalisasi dengan baik ke semua santri, sehingga pesantren selalu di garda depan dalam menjaga perdamaian.

Kesetaraan gender bukan zamannya lagi, sekarang adalah pengarusutamaan gender. Artinya dari perencanaan, pelaksaan, evaluasi dan monitoring program harus sama dirasakan kaum perempuan dan laki-laki.

"Dan sudah seyogianya perempuan masuk dalam program di pemerintahan," jelasnya.

Untuk mewujudkan hal itu, perempuan harus berpendidikan. Tidak ada alasan bagi kaum perempuan untuk tidak sekolah. Jika ada yang terlambat masuk sekolah, dia menyarankan untuk ikut kejar paket. Setelah itu wajib untuk mengikuti program yang membangkitkan keterampilan.

"Kaum perempuan harus memiliki keterampilan. Perempuan harus punya income. Mereka juga harus sehat," tekannya.


(HUS)