80 Persen Pelaku Kekerasan Seksual oleh Orang Terdekat

Syaikhul Hadi    •    Jumat, 23 Mar 2018 12:54 WIB
kekerasan seksual anak
80 Persen Pelaku Kekerasan Seksual oleh Orang Terdekat
ilustrasi (Metrotvnews.com)

Sidoarjo: Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Sidoarjo, I Wayan Sumertayasa menyebut, ada sekitar 80 persen pelaku kekerasan seksual merupakan orang terdekat korban. Hal itu diketahui dari berkas perkara yang ditangani petugas Adhyaksa dalam persidangan. 

"Setelah kami pelajari baik dari berkas maupun saat persidangan, kebanyakan pelakunya adalah orang terdekat korban. Kurang lebih sekitar 80 persen dari kasus kekerasan seksual yang ada," ungkap I Wayan Sumertayasa di Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat, 22 Maret 2018. 

Selebihnya, lanjut Wayan, merupakan perkara pemerkosaan yang ditengarai dilakukan oleh orang yang tak dikenal korban. Dalam sidang, terdakwa kerap memanfaatkan kesempatan atas kelengahan korban.   

Dia mencontohkan kasus yang menjerat Muhammad Taufiq, 38, asal Balongbendo, Sidoarjo, pada pertengahan 2017. Bapak satu anak tersebut tega mencabuli anak didik dari istrinya yang berprofesi mengajar guru les. 

"Jadi, dia pura-pura membantu istrinya saat mengajar les privat, duduk di samping korban dan memasukkan tangannya kedalam baju korban, lalu meraba-raba dada korban," katanya.

Perbuatan itu tidak hanya dilakukan terhadap satu korban, melainkan tiga lainnya. Terdakwa kemudian divonis 10 tahun penjara atas perbuatannya. 

Berbeda dengan perkara yang melibatkan pegawai klinik di kawasan Krembung, Sidoarjo, Misnanto, 40, yang dilakukan pada akhir 2017. Terdakwa memanfaatkan ketidaktahuan korban soal pembuatan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Saat itu, terdakwa meminta cairan kemaluan korban untuk kepengurusan KIS. 

"Korbannya masih berusia 12 tahun. Jadi terdakwa ini memanfaatkan kesempatan yang pada saat itu nenek korban sedang dirawat di RS. Tapi BPJS nya sudah enggak bisa dipakai. Akhirnya di sarankan mengurus KIS. Barulah terdakwa melancarkan akal bulusnya dengan membawa korban ke kos nya, lalu dicabuli," terangnya. 

Menurutnya, orang terdekat dinilai sudah memahami betul bagaimana kondisi korban dan keluarganya. Sehingga dibutuhkan perhatian penuh dari orangtua agar lebih aktif mengawasi anaknya. 

"Makanya, anak jangan ditinggal terlalu lama. Kepada orang terdekat harus tetap waspada," katanya. 

Di samping itu, anak yang sudah menginjak usia remaja tetap diawasi. Karena saat ini banyak anak seusia sekolah sudah berpacaran. 

"Orangtua harus curiga jika anak tidak pulang pada pukul 21.00 atau 22.00 WIB. Harus diberi batasan-batasan dalam pergaulan. Jangan sampai orangtua tidak tahu saat anaknya dibawa oleh pacarnya, bahkan sampai tidak dipulangkan (inapkan). Hal-hal kecil inilah yang harus menjadi perhatian bagi orang tua agar anak kita terhindar dari perbuatan yang mengarah ke tindak asusila," tandasnya. 


(LDS)