Ada Komunitas Manfaatkan Belatung Olah Sampah di Sidoarjo

Syaikhul Hadi    •    Senin, 25 Dec 2017 14:51 WIB
lingkungan hidup
Ada Komunitas Manfaatkan Belatung Olah Sampah di Sidoarjo
Slank saat mendeklarasikan Gerakan Jatim Bebas Sampah 2020 di Sidoarjo, Sabtu, 25 Desember 2017, Medcom.id - Hadi

Sidoarjo: Sampah menjadi masalah lingkungan. Di Jawa Timur, Komunitas Nol Sampah memanfaatkan belatung untuk mengurangi masalah tersebut. Komunitas itu mengklaim cara tersebut efektif dan efisien mengurangi sampah.

Sampah organik menumpuk di Pasar Puspa Agro di Taman Sidoarjo. Pantauan Medcom.id, sampah terdiri dari sampah basah dan kering. Diperkirakan, berat tumpukan sampah yaitu puluhan ton dalam sehari. 

Koordinator Komunitas Nol Sampah Jatim, Wawan Some, mengatakan membutuhkan waktu kurang lebih 10-12 jam dalam sehari untuk mengatasi masalah tersebut. Ia mengerahkan ratusan belatung untuk menjadikan sampah tersebut lebih bermanfaat.

Wawan menjelaskan proses kerjanya yaitu mencacah sampah organik. Lalu, belatung dilepas ke tumpukan sampah. Belatung akan memakan sampah sehingga berkembang biak. Wawan menyebut cara itu sebagai metode black soldier fly (BSF).

Menurut Wawan, sepekan kemudian, sampah seberat 1 ton dapat disulap menjadi pupuk sebanyak 100 kg. Sementara belatungnya bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.

"Hasil dari pereduksian itu yaitu pupuk kompos," kata Wawan dalam acara Deklarasi Jatim Bebas Sampah 2020 di Sidoarjo, Sabtu, 23 Desember 2017.

Di Indonesia, ungkap Wawan, produksi sampah mencapai 184 ribu ton per hari. Bila dikalkulasikan, sampah yang diproduksi di Indonesia sebanyak 67 ton per tahun. Jumlah warga Indonesia yaitu 250 juta jiwa. Dengan kata lain, setiap orang di Indonesia menghasilkan sampah hingga setengah kilogram setiap hari.

Sementara produksi sampah di DKI Jakarta mencapai 6.270 ton per hari. Bobot tersebut setara dengan berat tubuh 25 ikan paus. Jumlah tersebut mampu menutupi empat lapangan sepak bola.

Bagaimana dengan Jatim? Wawan menyebutkan jumlah penduduk di Jatim yaitu 38,85 jiwa. Produksi sampah di Jatim mencapai 17.395 ton per hari atau 6,3 juta ton per tahun. Dengan kata lain, produksi sampah di Jatim lebih banyak ketimbang Jakarta.

"Sebanyak 48 persen berasal dari sampah rumah tangga yang merupakan kombinasi sampah organik dan plastik. Sebanyak 70 persen sampah dibuang atau ditumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Jadi tak heran bila TPA penuh," ungkap Wawan.

Ada dua hal penting yang perlu mendapat perhatian serius. Yakni sampah organik dan plastik. Pengolahan sampah selalu menerapkan 3R (reduce, reuce, dan Recycle). Program itu menyusun pola hidup untuk mengurangi sampah (Reduce), setelah ada sampah bagaimana sampah tersebut bisa dipakai lagi (reuce), dan jika tidak bisa, maka didaur ulang menjadi benda lain yang bermanfaat (Recycle).

"Ini potensi besar jika diolah dengan baik dan benar. Pengolahan sampah organik selama ini lebih banyak diolah menjadi kompos. Ada juga yang dimanfaatkan kembali untuk pakan ternak atau ikan," jelasnya.


(RRN)