Paslon 'Menawan' Canangkan Malang Jadi Barometer Musik Indonesia

Daviq Umar Al Faruq    •    Minggu, 04 Mar 2018 12:07 WIB
pilkada serentakpilkada 2018
Paslon 'Menawan' Canangkan Malang Jadi Barometer Musik Indonesia
Pasangan Ya'qud Ananda Gudban-Ahmad Wanedi mengaku bakal mengembalikan Kota Malang sebagai barometer musik di Indonesia. Foto: Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq

Malang: Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang Ya'qud Ananda Gudban-Ahmad Wanedi berjanji memberikan perhatian penuh pada musik di Kota Malang. Salah satu program pasangan nomor urut satu ini adalah mengembalikan Kota Malang sebagai barometer musik di Indonesia.

Calon Wali Kota Malang Ya’qud Ananda Gudban menilai geliat musik di Kota Malang menurun karena industri ini tak diperhatikan dengan baik. Pagelran atau ajang musisi untuk unjuk gigi juga masih minim.

"Memang perlu ada program yang terintegrasi yang bisa membangkitkan sektor industri musik di Kota Malang," beber Doktor jebolan Universitas Brawijaya ini, Minggu 4 Maret 2018.

Diakuinya, musik merupakan subsektor dalam ekonomi kreatif yang memiliki potensi sangat besar. Menumbuhkan industri musik menjadi salah satu visi dan misi Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

"Dari beberapa informasi yang saya dapatkan banyak band dan musisi Kota Malang ini yang kualitasnya baik sekali. Beberapa bahkan sudah terkenal sampai nasional. Karena itu, Nanda-Wanedi perlu menjadikan hal ini sebagai salah satu program unggulan," tukasnya.

Selain itu, Nanda mengaku pihaknya juga akan langsung berdialog dengan para musisi Kota Malang untuk menyerap kebutuhan apa selama ini yang diperlukan agar dunia musik Kota Malang bisa bangkit kembali.

"Yang harus saya lakukan pertama adalah perlu mendengar permasalahan utama dalam dunia musik ini apa melalui para pelaku di dalamnya. Setelah itu mari kita cari solusi bersama dan Ayo Noto dunia musik ini bareng-bareng. Sehingga dengan begitu apa yang diharapkan bisa tercapai nantinya," tukasnya.

Sementara itu, calon Wakil Wali Kota Malang Ahmad Wanedi mengungkapkan bahwa musik rock di Kota Malang semakin tidak mendapatkan tempat. Padahal bila melihat sejarahnya, Malang dan musik rock berjalan beriringan.

Beberapa nama besar seperti Ian Antono, Abadi Soesman, Totok Tewel hingga Sylvia Saartje menjadi Kota Malang mampu melahirkan musisi papan atas yang berkualitas. "Tahun 1970-an musik rock jadi musik utama arek-arek Malang," katanya.

Konser-konser musik rock yang sering diadakan di era 1970-an hinga 1990-an di Pulosari, Stadion Gajayana dan Lapangan Rampal, kini hanya diadakan di tempat yang lebih kecil. "Ini yang salah. Seharusnya kita beri mereka ruang, anak-anak muda itu punya kreatifitas yang tak terbatas," ucapnya.

Melihat perkembangan musik khususnya musik rock di Kota Malang yang kian menurun dirinya sampaikan akan berupaya untuk menggembalikan kembali spirit murik rock. "Kita punya radio Senaputra yang selalu mengabarkan informasi soal musik, mereka harus kita rangkul, agar musik dapat disebarkan secara luas," katanya.

Selain itu, band Malang yang lahir di tahun 2000-an seperti The Morning After, Screaming Factor, SATCF dan lainnya akan diberikan tempat untuk mengadakan festival musik sehingga marwah Kota Malang sebagai pusatnya musik rock semakin terlihat.



 


(SUR)