Korban Zonasi, Siswa Tempuh 40 Km Tiap Hari

Aditya Mahatva Yodha    •    Selasa, 18 Jul 2017 12:47 WIB
pendidikan
Korban Zonasi, Siswa Tempuh 40 Km Tiap Hari
Siswa SMA N 1 Kepanjen, Kabupaten Malang, Jatim menggunakan angkutan umum. (Metrotvnews.com/Aditya Mahatva Yodha)

Metrotvnews.com, Malang: Penerapan zonasi sekolah sejatinya bertujuan agar siswa tidak perlu menempuh jarak terlalu jauh ke sekolah. Tujuan lainnya, agar siswa berprestasi tidak berkumpul di satu sekolah-sekolah favorit.

Namun, aturan yang tertuang dalam Permendikbud Nomor 17 tahun 2017 tentang PPDB itu menimbulkan masalah di daerah. Kabupaten Malang, misalnya. Wilayah administratif kabupaten di provinsi Jawa Timur ini seluas 3.535 km² mengelilingi Kota Malang dan Kota Batu.

Siswa di wilayah perbatasan bisa dibilang menjadi korban zonasi. Seperti dituturkan Rizky Danar, siswa baru SMAN 1 Kepanjen.

Rizky berasal dari kecamatan Wagir. Dalam sistem zonasi, siswa dari kecamatan Wagir hanya bisa memilih sekolah yang berada di kecamatan Kepanjen, Sumberpucung, Pagak, Wonosari, Donomulyo, Kromengan, dan Kalipare.

Padahal secara geografis, wilayah Wagir lebih dekat ke Kota Malang. Sehingga pupus sudah harapan sekolah di SMAN 8 Malang.

"Jarak ke SMAN 8 Malang dari rumah hanya 7 km, sementara dari rumah ke SMA N 1 Kepanjen jaraknya 20 km, pulang pergi 40 km per hari," ujar Rizky kepada Metrotvnews.com, di Jalan A Yani Kepanjen, Selasa, 18 Juli 2017.

Hal itu juga tentunya menambah beban wali murid, yakni untuk ongkos transportasi siswa. Seperti yang diungkapkan salah seorang wali murid bernama Rohmiati.

"Naik angkot di Kota Malang berlaku tarif sama baik jarak jauh maupun dekat. Sementara di Kabupaten Malang tidak. Kalau jarak jauh, lebih mahal, tambah biaya transportasi," terang Rohmiati, warga Jedong, kecamatan Wagir, kabupaten Malang.

Selain luasnya wilayah, sistem zonasi belum tepat dilakukan di Kabupaten Malang. Karena, beberapa kecamatan belum memiliki SMAN.

"Ada beberapa kecamatan seperti Dau, Karangploso, Pakisaji, Pakis, Tajinan, Wagir belum memiliki SMAN, sementara kuota untuk sekolah ke luar daerah zonasi hanya dibatasi lima persen sehingga mereka harus bersaing ketat," ujar Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Pudianto.


(SAN)