Pangdam Brawijaya: Dimas Kanjeng Dibekingi Oknum TNI-Polri

   •    Sabtu, 01 Oct 2016 10:37 WIB
penipuan
Pangdam Brawijaya: Dimas Kanjeng <i>Dibekingi</i> Oknum TNI-Polri
Warga dari berbagai daerah menyaksikan kondisi padepokan Dimas Kanjeng di Dusun Sumber Cengkelek, Kecamatan Gading, Probolinggo, Jawa Timur -- ANT/Abdus Syukur

Metrotvnews.com, Surabaya: Pangdam V/Brawijaya Mayjen I Made Sukadana mengakui sejumlah oknum TNI-Polri menjadi "murid" Padepokan Dimas Kanjeng Probolinggo, Jawa Timur, namun mereka hakikatnya hanya menjadi "tameng" atau beking padepokan itu.

"Saat hendak menggerebek padepokan itu pada Kamis (22/9/2016), Polda Jatim sudah berkoordinasi dengan kami karena ada beberapa oknum TNI di sana," katanya, di sela silaturahim bertajuk Cangkrukan Pangdam V/Brawijaya dengan Insan Pers, di kediaman Pangdam V/Brawijaya, di Surabaya, seperti dilansir Antara, Sabtu (1/10/2016).

Namun, pihaknya tidak tahu persis data oknum TNI itu secara rinci. "Yang jelas, koordinasi itu sangat penting agar tidak ada benturan TNI-Polri saat penangkapan pimpinan tertinggi Padepokan Dimas Kanjeng itu," katanya lagi.

Sebelumnya, jajaran Polda Jatim menyatakan, dua korban pembunuhan yang dilakukan "Tim Pelindung Dimas Kanjeng" itu terjadi atas perintah Taat Pribadi dengan melibatkan sembilan pelaku. Hampir separuh dari pelaku merupakan oknum TNI yang desersi.

Dalam pertemuan yang dihadiri Ketua PWI Jatim Akhmad Munir, Ketua AJI Surabaya Prasto Wardoyo, dan pimpinan media massa lokal dan nasional itu, Pangdam Brawijaya menyatakan pihaknya tidak ingin menutupi keterlibatan oknum TNI dalam kasus Dimas Kanjeng.

"Tidak ada yang ditutupi, apakah mereka masih aktif di TNI atau pecatan. Maaf, kami tidak mengetahui karena Polda Jatim yang tahu datanya. Cuma, mereka dijadikan 'tameng' saja agar Dimas Kanjeng disegani orang," kata jenderal berbintang dua yang pernah lima tahun bertugas di Papua itu.

Tersangka Penipuan 

Secara terpisah, Kabid Humas Polda Jatim Kombes RP Argo Yuwono menjelaskan jajaran Ditreskrimum Polda Jatim telah menetapkan pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng Proboliggo, Taat Pribadi, sebagai tersangka.

"Setelah ditangkap pada 22 September lalu dan melalui serangkaian pemeriksaan hingga diyakini keterlibatan dengan bukti yang ada, maka penyidik akhirnya menetapkan pimpinan padepokan itu sebagai tersangka dalam kasus penipuan," katanya lagi.


Dimas Kanjeng (kanan). Foto: MI/Abdus Syukur

Dalam kasus penipuan terkait penggandaan uang itu, Polda Jatim telah menerima dua laporan korban yang merasa ditipu miliaran rupiah oleh tersangka dengan praktik mirip multilevel marketing (MLM).

"Untuk kasus pembunuhan, penyidik masih memeriksa untuk mendalami keterkaitan sembilan pelaku pembunuhan Abdul Gani dan Ismail Hidayah (pengurus Yayasan Padepokan Kanjeng Dimas) dengan tersangka Taat Pribadi, terutama bunyi perintah itu," katanya.

Berkaitan cara Taat Pribadi menggandakan uang hingga miliaran rupiah tidak ada yang tahu persis, namun ada tiga korban penipuan oleh pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng itu yang sudah melapor ke polisi.

Satu korban penipuan melapor ke Mabes Polri dan dua lagi korban melapor ke Polda Jatim, di antaranya korban atas nama Suprayitno. Nilai penipuan yang dilaporkan itu mencapai Rp830 juta dan Rp1,5 miliar.

Ada pula korban dari luar Jawa yang belum melapor ke polisi.
Taat memang membuka praktik penggandaan uang dengan sistem MLM, yakni per orang menyetor uang Rp25 juta dan dikumpulkan kepada orang kepercayaannya, di antaranya Abdul Gani dan Ismail Hidayah yang akhirnya terbunuh itu.

 


(UWA)