Gempa dan Tsunami di Palu

Keluarga Tunggu Jenazah Atlet Paralayang asal Jatim

Daviq Umar Al Faruq    •    Rabu, 03 Oct 2018 20:40 WIB
Gempa Donggala
Keluarga Tunggu Jenazah Atlet Paralayang asal Jatim
Rumah duka atlet paralayang Jatim, Ardi Kurniawan di Jalan Trunojoyo Gang IV, Kota Batu, Jawa Timur, Medcom.id - Daviq

Batu: Jenazah Ardi Kurniawan, atlet paralayang Jawa Timur hingga saat ini tak kunjung tiba di rumah duka. Warga asal Kota Batu, Jawa Timur, itu sebelumnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di reruntuhan Hotel Roa-Roa akibat gempa di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Sejumlah pelayat pun tampak berdatangan silih berganti di kediaman Ardi di Jalan Trunojoyo Gang IV, Kota Batu, Jawa Timur. Berbagai karangan bunga ucapan belasungkawa juga turut mengelilingi rumah ber cat kuning tersebut. Namun, jenazah bapak dua anak itu tak kunjung pulang.

Adik kandung Ardi, Andri Sisnanto, mengaku pihak keluarga sangat berharap agar jenazah Ardi dapat segera dipulangkan. Dia menjelaskan menurut informasi yang didapat, jenazah Ardi akan datang paling lambat besok Kamis 4 Oktober 2018 pagi.

"Kepinginnya dipulangkan ke sini dengan cepat supaya kita kalau menengok bisa dekat. Sampai sekarang masih diusahakan untuk pulang hari ini. Paling lambat mungkin besok pagi," kata Andri disela-sela menerima tamu di kediamannya, Rabu 3 Oktober 2018.

Pria 27 tahun itu mengatakan pihak keluarga telah menyiapkan pemakaman Ardi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Songgokerto yang dekat dengan rumah duka. Pihak keluarga pun tetap berpikir positif dan optimis jenazah Ardi dapat dipulangkan.

"Ardi adalah kakak, teman, dan guru yang ngajari saya paralayang. Tentunya keluarga sedih dan merasah kehilangan sosoknya. Apalagi Ardi adalah atlet berprestasi yang berulang kali mengharumkan nama negara," ungkap pria yang juga atlet paralayang ini.

Andri mengaku terakhir bertemu dengan Ardi sekitar seminggu sebelum kakaknya itu berangkat ke Palu. Namun sesampainya di Palu, Andri mengaku tidak pernah berkomunikasi dengan Ardi.

"Saya jarang kontak dengan dia. Terakhir ketemu di Sumedang, seminggu sebelum berangkat ke Palu. Saat Ardi di Palu, saya tidak sempat komunikasi dengannya. Biasanya kontak sama istrinya saja," terangnya.

Diakuinya, Ardi sebenarnya setengah hati untuk berangkat ke Palu. Hanya saja demi tugas seorang atlet, dia tetap berangkat dan rela meninggalkan anak, istri dan keluarganya.

"Katanya ada pikiran nggak mau ikut. Tapi tugas seorang atlet. Resiko seorang atlet. Dia itu yang ngajarin saya paralayang, yang ngawasu saya, dan ngasi tau kesalahan saya, dikoreksi terus. Saya nggak pernah tengkar sama dia, banyak kenangannya," pungkasnya.

Seperti diketahui, ada lima atlet paralayang Jawa Timur yang menjadi korban gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 28 September 2018 lalu. Hingga kini, tiga atlet telah berhasil ditemukan, dua diantaranya selamat sedangkan satu atlet meninggal dunia.

Kelima atlet tersebut yakni Viki Mahardika, Gigih Iman, Reza Kambey, Ardi Kurniawan, dan Serda Fahmi. Kelimanya adalah atlet dari Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Jawa Timur yang mengikuti Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) 2018 di Palu.

Hingga saat ini, ketiga atlet yang telah ditemukan, yakni Viki Mahardika, Gigih Iman, dan Ardi Kurniawan. Viki dan Gigih ditemukan sejak Minggu 30 September 2018 dalam keadaan selamat, sedangkan Ardi ditemukan Selasa 2 Oktober 2018 dengan kondisi meninggal dunia.


(RRN)