Air Bantuan dari BPBD Dilarang Digunakan untuk Pengairan

Rahmatullah    •    Rabu, 23 Aug 2017 19:25 WIB
kekeringan
Air Bantuan dari BPBD Dilarang Digunakan untuk Pengairan
Petugas BPBD Sumenep ketika akan mengalirkan air ke jeriken warga, MTVN - Rahmatullah

Metrotvnews.com, Sumenep: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Jawa Timur, melarang warga menggunakan bantuan air untuk pertanian, seperti untuk menyiram tembakau. Drop air dari BPBD hanya boleh digunakan untuk kebutuhan manusia atau konsumsi. 
 
“Kemarin droping air di Kecamatan Prancak sebagian digunakan untuk kebutuhan pertanian. Itu tidak diperbolehkan. Jadi droping air bersih dari BPBD itu hanya khusus untuk kebutuhan manusia,” jelas Kepala BPBD Sumenep, Abd. Rahman Riadi, Rabu 23 Agustus 2017.
 
Baca: Dua Desa di Sumenep Mencari Air ke Kecamatan Lain 
 
Ada 2 desa sebenarnya yang tidak masuk daftar rawan kekeringan, yaitu Desa Desa Tanah Merah dan Langsar di Kecamatan Saronggi. Tapi ternyata desa tersebut sudah mengajukan pengiriman air bersih. Meski tidak masuk peta kekeringan, BPBD sudah mendrop air ke sana karena sudah ada permintaan.
 
Menurut Rahman, total jumlah rawan kekeringan di Sumenep 37 desa. Sebanyak 15 desa di antaranya termasuk kering kritis, sedangkan 22 desa terkategori kering langka. Desa-desa tersebut tersebar di 13 kecamatan.
 
Yang dimaksud kering kritis, jelas Rahman, adalah kebutuhan konsumsi per orang lebih dari 30 liter per hari, sedangkan jarak jangkauan ke sumber air di atas 3 kilo meter (KM). Sementara kering langka adalah kebutuhan konsumsi per orang dari 10 sampai di bawah 30 liter per hari, dan jarak tempuh ke sumber air dari 500 meter sampai di bawah 3 KM.
 
“Kita akan drop air sesuai hasil verifikasi setelah ada permintaan dari warga. Jika air sudah habis, kita droping ulang,” jelasnya.
 
Rahman melanjutkan, droping air terkendala keterbatasan armada. BPBD hanya memiliki dua mobil tangki, sehingga tidak bisa menjangkau semua titik kekeringan. Meksi begitu, dia mengimbau masyarakat tidak resah. Sebab dia sudah berkoordinasi dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) yang sama-sama memiliki mobil tangki untuk mendrop air.



(RRN)