Ikan Arapaima Dibeli di Sebuah Pasar Surabaya

Syaikhul Hadi    •    Selasa, 03 Jul 2018 14:22 WIB
lingkungan hiduphewan dilindungi
Ikan Arapaima Dibeli di Sebuah Pasar Surabaya
Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM-KHP) Muhlin. Medcom.id/Syaikhul Hadi

Sidoarjo: Ikan arapaima yang sudah beredar di kalangan masyarakat Jawa Timur sempat membuat pemerintah kewalahan. Ikan predator ini bisa merusak ekosistem ikan di perairan Indonesia.

HP, pemilik arapaima yang melepas ikannya ke Sungai Brantas, mengaku memperolehnya dari pasar ikan di Gunung Sari Surabaya.

"H Ghofur alias HP ini dulu beli di pasar Gunung Sari Surabaya," jelas Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM-KHP) Surabaya I, Muhlin, Selasa, 3 Juli 2018.

Dalam keterangan HP ke petugas, ikan predator asal Sungai Amazon, Amerika Selatan, ini sudah dibeli sejak 7-10 tahun lalu. HP tidak mengetahui betul atas dampak yang diakibatkan ikan jenis predator tersebut.

Ia baru menyadari setelah bertahun-tahun memeliharanya sebelum membuang ikan peliharaannya ke sungai.

"Setiap harinya ikan jenis ini harus makan kisaran 5 kilo ikan. Bisa jadi faktornya itu yang membuat ikan ini dibuang ke sungai. Karena sudah tidak kuat lagi memberi makan," katanya.

Sebagian ikan HP yang dilepas sudah ditangkap dan dimakan warga. BKIPM-KHP menyebut daging ikan tersebut tidak berbahaya bagi yang memakannya.

Namun, ikan ini dapat berbahaya bila dibiarkan hidup di perairan Indonesia. Arapaima ini dapat merusak ekosistem budidaya ikan di perairan.

"Makanya, ikan jenis ini tidak boleh masuk ke Indonesia. Karena bisa menghilangkan ikan-ikan yang sudah hidup di perairan Indonesia. Dan yang sudah masuk pun pasti ilegal," tegasnya.

BKIPM-KHP Surabaya I di Juanda sudah membuka posko pengaduan masyarakat terkait keberadaan ikan arapaima di Sungai Brantas. Pihaknya meminta agar masyarakat yang memelihara atau menemukan ikan predator tersebut untuk menyerahkan ke balai karantina.

Pembudidaya ikan predator yang terlarang ini dapat diancam hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp1,5 miliar. Sedangkan perbuatan sengaja merusak lingkungan dengan cara menyebarkan ikan predator ke sungai dapat diancam 10 tahun penjara dan denda Rp2 miliar.


(SUR)