Mengeluarkan Gas Beracun, Kawah Ijen Ditutup Sementara

Antara    •    Kamis, 22 Mar 2018 11:35 WIB
gas beracungunung ijen
Mengeluarkan Gas Beracun, Kawah Ijen Ditutup Sementara
Penambang belerang di Kawah Ijen. (MI/Ramdani)

Banyuwangi: Taman Wisata Alam Kawah Ijen yang berada di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, Jawa Timur, ditutup sementara lantaran mengeluarkan gas beracun. 

"Hari ini kami merekomendasikan untuk penutupan jalur pendakian ke Gunung Ijen karena adanya gas beracun yang masih diselidiki penyebabnya oleh petugas di lapangan," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Ijen, Bambang Heri Purwanto, saat dihubungi dari Banyuwangi, Kamis, 22 Maret 2018.

Bambang menuturkan, warga di Kali Banyupahit dan Watucapil Bondowoso mengalami keracunan gas yang berasal dari Kawah Ijen di daerah Banyupait Sempol Bondowoso. Bahkan, sebagian korban terdampak gas sudah dibawa ke Puskesmas Sempol dan RSUD Bondowoso.

"Selama dua hari ini aktivitas kegempaan Gunung Ijen, yakni gempa vulkanik dangkal, mengalami peningkatan, namun tidak signifikan. Berdasarkan data pada 18 Maret tercatat 11 kali gempa vulkanik dangkal dan pada 20 Maret terekam 22 kali gempa vulkanik dangkal, namun status Gunung Ijen masih
normal," tuturnya.

Menurutnya, petugas masih mencari tahu penyebab keluarnya gas beracun. Sementara itu, beberapa hari terakhir curah hujan di kawasan lereng Gunung Ijen juga tinggi. Pihaknya masih belum bisa menjelaskan penyebab keluarnya gas beracun di Kawah Gunung Ijen.

"Wisatawan dan para penambang tidak diperbolehkan naik ke Kawah Ijen untuk sementara waktu. Siapa pun tidak boleh mendekati radius 1 kilometer dari bibir kawah," tuturnya.

Status Gunung Ijen masih normal meskipun ada peningkatan gempa vulkanik dan keluarnya gas beracun dari kawah gunung berketinggian 2.368 meter dari permukaan laut itu.

Kepala Resor Taman Wisata Alam Ijen KSDA Sigit Ariwibowo membenarkan informasi yang menyebutkan Gunung Ijen mengeluarkan gas beracun. Gas keluar pada Rabu 21 Maret sekitar pukul 19.00 WIB. 

"Kalau radiusnya belum bisa diprediksi karena sebelum mengeluarkan gas beracun terjadi ledakan dari Kawah Ijen dan asap mengikuti arah angin ke barat (ke Bondowoso)," katanya.


(LDS)