Warga di Surabaya Belum Tahu Pentingnya Imunisasi

Amaluddin    •    Jumat, 08 Dec 2017 16:30 WIB
klb difteri
Warga di Surabaya Belum Tahu Pentingnya Imunisasi
Suasana RSIA Cempaka Putih Permata di Jambangan, Kota Surabaya. (Medcom.id/Amal).

Surabaya: Sejumlah warga di Kota Surabaya, Jawa Timur, mengaku belum tahu tentang pentingnya imunisasi difteri. Karena itu, mereka enggan memberikan imunisasi terhadap anaknya, utamanya anak usia di bawah 15 tahun.

Fatiyah (46), warga Karah Agung, Surabaya, megaku memiliki dua orang anak, putra dan putri yang masih berusia antara 9 dan 12 tahun. Kata Fatin, sapaan akrabnya, kedua anaknya hanya sekitar empat kali mendapat imunisasi di Puskesmas atau Posyandu setempat.

“Yang saya tahu, anak harus mendapat imunisasi di usia 5 tahun ke bawah. Di atas itu enggak harus,” kata Fatin, ditemui di RSIA Cempaka Putih Permata di Jambangan, Surabaya, Jumat, 8 Desember 2017.

Baca: 187 Desa di Jatim KLB Difteri

Fatin juga mengaku belum mengetahui anak usia di bawah 15 tahun wajib mendapat tujuh kali vaknisasi. Sebab, kata dia, dirinya belum mengetahui adanya sosialisasi pentingnya imunisasi. “Saya malah baru tahu. Soalnya anak-anak tetangga kebanyakan hanya ikut imunisasi pada usia balita sampai 5 tahun,” ujarnya.

Lain halnya dengan Maslahatul Insiyah (36), warga asal Kabupaten Gresik, yang memiliki seorang putra berusia 5 tahun. Kata dia, anaknya tidak pernah ikut imunisasi sejak lahir sampai saat ini.

“Saya juga belum tahu pentingnya imunisasi. Menurut saya yang penting menjaga kesehatan anak dengan pola makan yang baik dan sehat,” ujarnya.

Baca: Penyebab Banyak Kasus Difteri Terjadi di Jatim

Menurut Liha, demikian ia disapa, imunisasi tidak begitu penting. Anak usia di bawah 15 tahun akan sehat dan baik-baik saja jika menjaga pola makan sehat dan lingkungan bersih. “Alhamdulillah sampai saat ini anak saya sehat, terkadang sakit demam. Tapi besoknya membaik dan sembuh,” kata dia.

Difteri merupakan infeksi yang umumnya menyerang selaput lendir hidung dan tenggorokan. Infeksi difteri mulai mewabah dan menjangkiti anak-anak maupun dewasa.

Gejala yang ditimbulkan pada anak maupun dewasa hampir sama. Mulai demam, rasa tidak nyaman pada tenggorokan, hingga pilek. Namun, gejala ini harus dibedakan dengan penyakit amandel.

Jika gejala tersebut muncul, maka penderita harus segera dibawa ke puskesmas atau dokter terdekat. Yang perlu diperhatikan adalah memastikan bahwa gejala yang timbul adalah difteri dengan pemeriksaan laboratorium, agar penanganan yang diberikan maksimal.

Satu-satunya cara mencegah penularan difteri adalah dengan pemberian vaksin atau imunisasi. Sayangnya, sering kali ada pemahaman yang salah di masyarakat yang menyebut bahwa pemberian vaksin justru berbahaya bagi tubuh.


(ALB)