Mengais Reruntuhan Rumah di Lahan Eksekusi Tol

Nurul Hidayat    •    Kamis, 01 Sep 2016 11:07 WIB
tol
Mengais Reruntuhan Rumah di Lahan Eksekusi Tol
Eskavator menghancurkan bangunan yang akan menjadi lahan Tol Mojokerto-Kertosono di Desa Watudakon, Jombang, Jatim, Kamis (1/9/2016). (Foto-foto: Metrotvnews.com/Nurul Hidayat)

Metrotvnews.com, Jombang: Pagi baru saja terbit di Desa Watudakon, Kesamben, Jombang, Jawa Timur. Namun, pada Kamis, 1 September, belasan orang sudah sibuk mengais bahan material di antara reruntuhan rumah.

Yang laki-laki memilah kayu, bata, kusen, dan beberapa genting yang dinilai masih layak. Yang perempuan pun turut membantu, sembari mengorek reruntuhan kalau-kalau masih ada benda berharga.

"Biar hemat untuk bangun rumah baru," ujar Rianto, 42, salah satu warga Desa Watudakon.

Rumah Rianto rata dengan tanah setelah dihantam alat berat. Kemarin, tim eksekutor dari Pengadilan Negeri (PN) Jombang menghancurkan belasan bangunan di areal tersebut. 


Warga Desa Watudakon mengumpulkan bahan-bahan bangunan yang masih layak guna. (Metrotvnews.com/Nurul Hidayat)

Lahan tempat berdiri bangunan itu bakal dijadikan jalan Tol Mojokerto-Kertosono. Warga sempat mengadang para eksekutor yang didampingi personel Polres Jombang dan Polda Jatim. Bahkan, warga mengancam akan meledakkan diri

Mereka beralasan harga ganti rugi Rp170 ribu-Rp300 ribu per meter tidak sesuai. Padahal, negosiasi antara warga dengan tim pengadaan tanah telah dilakukan berbilang tahun lamanya.

Ujungnya, ganti rugi ditempuh melalui sistem konsinyasi. Instansi yang memerlukan tanah menitipkan uang ganti rugi ke PN Jombang.

Berpegang pada Perpres 71/2012 utamanya Pasal 95, permohonan pengosongan tanah pada pengadilan setempat pun dilayangkan. Puncaknya, 18 bangunan di Desa Watudakon diratakan.

Warga yang sebelumnya yakin bisa mempertahankan tanah, akhirnya menyerah. "Semalam mengungsi ke rumah saudara. Bingung mau ke mana. Bingung juga cara klaim ganti rugi," kata Rianto didampingi istrinya yang mengais di reruntuhan, sementara dua alat berat terus meruntuhkan 18 bangunan yang jadi objek eksekusi.


Warga Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, Jombang, Jatim, blokir jalan tolak eksekusi lahan Tol Jombang-Mojokerto. (Metrotvnews.com/Nurul Hidayat)

Mojokerto-Kertosono

Tol Mojokerto-Kertosono itu membentang sepanjang 40,5 km. Tol ini dibangun oleh PT Marga Harjaya Infrastruktur, selaku pemegang hak konsesi.

Anak perusahaan PT Astratel Nusantara (bagian dari Astra International Tbk) itu, membagi tol tersebut menjadi empat seksi. Yakni, seksi 1 (Bandar Kedungmulyo-Tembelang) sepanjang 14,7 kilometer, beroperasi sejak Oktober 2014.

Seksi 2, sepanjang 19,9 km dari Desa Tamping Mojo, Tembelang, Jombang sampai Desa Pageruyung, Gedeg, Mojokerto. Sementara, seksi 3 dan 4 masing-masing sepanjang 5 km dan 0,9 km. Hingga kini, masalah pembebasan lahan menjadi kendala di ruas-ruas tersebut.

Eksekusi pengosongan lahan tol Mojokerto-Kertosono seksi II meliputi delapan desa di lima kecamatan. Yakni, Kecamatan Kesamben, meliputi Desa Kedungmlati (46 bidang), Desa Watudakon (39 bidang), Desa Blimbing (21 bidang), dan Desa Carangrejo (3 bidang).

Kecamatan Sumobito, meliputi Desa Kendalsari (54 bidang). Lalu, lima bidang tanah di Desa Kedunglosari, Kecamatan Tembelang. Sisanya, satu bidang tanah di Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan; dan tiga bidang di Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo.


(SAN)