37 Kasus Kekerasan Seksual di Malang Sejak Awal 2018

Daviq Umar Al Faruq    •    Jumat, 23 Mar 2018 12:49 WIB
kekerasan seksual anak
37 Kasus Kekerasan Seksual di Malang Sejak Awal 2018
ilustrasi (Metrotvnews.com)

Malang: Sepanjang tahun 2017, Polres Malang, Jawa Timur, menangani 277 kasus kekerasan seksual. Sementara pada awal 2018, kasus kekerasan seksual terjadi sebanyak 37 kasus pada bulan pertama dan kedua. 

Kasus pada bulan Januari dan Februari 2017 tak berbeda jauh  jumlahnya dengan Januari dan Februari 2018. Yakni 19 kasus di Januari dan 20 kasus di Februari 2017, sedangkan pada 2018 terjadi 20 kasus pada Januari dan 17 kasus saat Februari.

Sementara itu, pada Maret 2017 sebanyak 17 kasus, 25  kasus saat April, 16 kasus ketika Mei, 16 kasus saat Juni, 33 kasus Juli, Agustus terjadi 18 kasus, 23 kasus saat Oktober, 27 kasus saat November dan 24 kasus saat Desember. 

"Mayoritas kasus yang tercatat adalah kasus pencabulan dan persetubuhan,” kata Kanit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Polres Malang Ipda Yulistiana kepada Medcom.id, Kamis 22 Maret 2018.

Korban rata-rata berusia 16 tahun dan mayoritas perempuan. Sedangkan untuk pelaku, beragam usia. 

"Mayoritas kakek-kakek dan berusia kepala dua. Kalau tersangka yang masih di bawah umur masih jarang," beber Yulistiana.

Yulistiana menjelaskan, kebanyakan kasus kekerasan seksual  dilakukan oleh teman dekat atau tetangga korban. Selain itu, dalam beberapa kasus, kekerasan seksual juga dilakukan oleh seseorang yang telah dipercaya.

"Kelalaian orangtua dalam menjaga anak juga menjadi salah satu faktor terjadinya kekerasan seksual anak," ujarnya.

Aksi kekerasan seksual mayoritas dilakukan di rumah tersangka. Kelakuan amoral ini pun kerap kali dilakukan oleh tersangka saat korban jauh dari pengawasan, khususnya korban anak-anak. 

Selain itu, kasus kekerasan seksual juga bisa terjadi saat anak sedang tidur atau bermain ke rumah tersangka. "Perasaan tertarik tersangka terhadap korban bisa muncul saat itu," ungkapnya.

Oleh karena itu, kata dia, polisi tengah gencar menyosialisasikan ke sekolah dan berbagai forum di masyarakat untuk pencegahan.


(LDS)