Warga Pelihara Kakatua Diingatkan soal Hukuman 5 Tahun Penjara

Daviq Umar Al Faruq    •    Jumat, 14 Sep 2018 16:18 WIB
satwa dilindungi
Warga Pelihara Kakatua Diingatkan soal Hukuman 5 Tahun Penjara
Aksi organisasi perlindungan hutan dan satwa liar terkait perlindungan terhadap kakatua dan nuri di Malang, Medcom.id - Daviq

Malang: Burung kakatua dan nuri kerap dipelihara warga karena keindahan bulunya. Tapi, warga harus segera menyerahkan burung peliharaan tersebut ke pemerintah. Bila tidak, warga terancam hukuman penjara selama lima tahun dan denda Rp100 juta.

Juru Kampanye Profaunda Indonesia Afrizal Abdi mengingatkan warga soal ancaman tersebut. Alasannya, dua jenis burung itu dilindungi pemerintah melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Perlindungan Satwa.

"Saat ini dari 89 jenis kakatua dan nuri di Indonesia, sebanyak 88 jenis telah ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi," kata Afrizal dalam kegiatan kampanye publik untuk memperingati Hari Kakatua Indonesia di depan Balai Kota Malang, Jawa Timur, Jumat, 14 September 2018.

Profauna merupakan organisasi perlindungan hutan dan satwa liar. Aksi itu mendukung pemerintah memberlakukan peraturan tersebut untuk melindungi kakatua dan nuri.

Peraturan itu juga melindungi 921 jenis tumbuhan dan satwa liar. Salah satu jenis kakatua yang dilindungi yaitu kakatua putih atau Cacatua alba. Warga yang menjual dan menangkap burung tersebut terancam berurusan dengan pihak berwajib.

Peraturan itu berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 yaitu perburuan, perdagangan, atau pemeliharaan satwa dilindungi secara ilegal bisa diancam hukuman penjara lima tahun dan denda Rp100 juta.

"Karena sudah ada dasar hukumnya, maka penangkapan dan perdagangan 88 jenis burung kakatua dan nuri dilarang. Termasuk bagi yang memelihara di rumah tanpa izin, bisa dikenai hukuman penjara," tegasnya.

Tapi, kata Afrizal, pemerintah berencana merevisi daftar satwa. Kabarnya, lanjut Afrizal, pemerintah akan mengeluarkan tiga jenis burung dari daftar satwa yang dilindungi yaitu jalak suren (Gracupica jalla), cica daun besar (Chloropsis sonnerati), dan cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus). 

Afrizal berharap revisi itu sesuai dengan kajian ilmiah bukan karena tekanan sekelompok masyarakat. Sebab, burung-burung itu ditangkap dari alam.



(RRN)