Kapal Penumpang Tujuan Bawean Terdampar di Gresik

Amaluddin    •    Sabtu, 02 Dec 2017 15:13 WIB
kapal
Kapal Penumpang Tujuan Bawean Terdampar di Gresik
Kapal Bahari Express rute Gresik-Bawean. (Medcom.id/Amal)

Surabaya: Kapal rute Gresik-Bawean tak beroperasi akibat cuaca buruk angin kencang disertai gelombang tinggi. Akibatnya, ratusan penumpang yang hendak ke Pulau Bawean dan sebaliknya terdampar.

Imam Mustafid Maulidan, 32, salah satu agen tiket kapal di Gresik, mengatakan saat ini para calon penumpang terpaksa harus tinggal di sejumlah penginapan di sekitar Pelabuhan. Itu akibat kapal yang akan ditumpanginya tak beroperasi.

“Sudah hampir sepekan kapal tak beroperasi, akibat cuaca buruk,” kata Pipit, sapaan akrabnya, kepada Medcom.id, Sabtu, 2 Desember 2017.

Pipit bilang, ada tiga kapal yang biasa beroperasi rute Gresik-Bawean, dan Bawean-Gresik. Yaitu Kapal Bahari Express, Kapal Natuna, dan Kapal Gili Iyang.

“Ketiga kapal itu masing-masing memiliki jadwal operasi berbeda. Tapi dalam sepekan ini belum bisa beroperasi karena kondisi laut tidak memungkinkan,” ujarnya.

Ainun Naza, salah satu penumpang mengaku sudah sepekan terjebak di Gresik, karena belum ada kapal yang beroperasi. Saat ini, lanjut Ainun, dirinya bersama tiga temannya terpaksa menginap di penginapan sekitar pelabuhan. 

“Sebenarnya kemarin Jumat ada kapal Bahari Express beroperasi. Ternyata setelah berlayar sekitar satu jam, memilih kembali lagi ke Gresik, karena gelombang tinggi mencapai sekitar 4 meter, disertai angin kencang,” ujarnya.

Karena itu, Ainun berharap Pemerintah Kabupaten Gresik menyediakan kapal bantuan untuk mengantar penumpang yang hendak ke Pulau Bawean. Jika tidak, jumlah penumpang asal Bawean yang terdampar di Gresik akan terus menumpuk.

“Solusinya memang harus ada kapal bantuan. Kondisi ini menguji kepedulian pemerintah terhadap warganya yang saat ini terdampar di Gresik,” katanya.

Serupa dialami Auliyaul Haq, warga Desa Kepuh Teluk, Kecamatan Tambak, Bawean, Gresik. Dia mengaku sudah memesan tiket kepulangannya ke Pulau Bawean pada kemarin Jumat. Namun kapal tidak jadi melanjutkan perjalanannya setelah 1 jam berlayar menuju Bawean, akibat gelombang mencapai 4 meter.

Auliya pun berharap pemerintah segera mengupayakan adanya kapal bantuan yang bisa berlayar ke Pulau Bawean, mengingat saat ini banyak warga Bawean yang ingin pulang untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di kampung halaman.

“Sampai saat ini belum ada tanda-tanda upaya dari pemerintah untuk memberikan solusi terhadap warga Bawean,” ujarnya.

Data BMKG Tanjung Perak Cabang Bawean menyebutkan, ketinggian gelombang laut di perairan Pulau Bawean pada 29 November sampai 2 Desember mencapai sekitar 4-3 meter. Ombak diprediksi turun pada 30 November 2017, tapi ketinggian masih di atas 2 meter.

“Sementara ketinggian gelombang yang aman untuk kapal cepat seperti Bahari Express dan Natuna Ekpres maksimal 2 meter. Tapi jika kondisi ini belum stabil, mestinya pemerintah menyediakan kapal bantuan, solusi bagi warga Bawean,” Pipit menambahkan.



(ALB)