Polisi Tangkap Penyebar Isu PKI di Jatim

Amaluddin    •    Jumat, 02 Mar 2018 15:32 WIB
Polisi Tangkap Penyebar Isu PKI di Jatim
Tim Subdit V Siber Ditreskrimsus Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur saat merilis pelaku penyebar kabar hoax soal kebangkitan PKI di Jatim. (Medcom.id/Amal).

Surabaya: Tim Subdit V Siber Ditreskrimsus Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur menangkap empat penyebar informasi hoaks terkait ujaran kebencian berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Dalam aksinya pelaku menyebar informasi bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) mulai masuk ke Pondok Pesantren di Jatim.

"Mereka ini berasal dari berbagai daerah di Jatim, ada yang dari Ngawi, Surabaya, Sumenep dan Probolinggo. Mereka menyebar informasi hoaks ini melalui akun media sosial (medsos) Facebook," kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombespol Frans Barung Mangera,  didampingi Wadireskrimsus AKBP Arman Asmara, saat jumpa pers di Mapolda Jatim, Jumat, 2 Maret 2018.

Adapun identitas empat pelaku itu, yakni Muhammad Faisal Arifin (MFA) alias Al Fadal bin Abdul Wahab alias Abu Wahab bin Suja`i; RG asal Ngawi; SFY, asal Probolinggo; dan MDR asal Sumenep Madura.

"Jadi selama ini bahwa ada kabar keberadaan PKI adalah hoaks, tidak benar. Ternyata tersangka ini yang selama ini memprovokasi dan menyebar hoaks itu," jelasnya. 

"Kami harap teman-teman menginformasikan ke publik bahwa isu PKI di Jatim tidak benar, kalau ada sudah pasti kami tindaklanjuti karena keberadaan PKI jelas dilarang oleh UU," tambah Barung.

Barung menjelaskan para pelaku mengunggah isu PKI di Jatim dibuat sedemikian rupa, tujuannya agar wilayah Jatim yang kondusif menjadi tak kondusif. 

"Salah satu contohnya kasus di Tuban, ini tidak ada penyerangan terhadap masjid maupun kiai termasuk tersusupi PKI. Termasuk yang di Kediri dan Lamongan. Semua kasus itu kata para pelaku ini, dilakukan oleh PKI dan semua itu adalah hoaks, tidak benar adanya," ujarnya.

Akibat perbuatannya, para pelaku dijerat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Pasal 14 dan 15 serta Undang-Undang ITE Nomor 19 Tahun 2016.
(ALB)