Penyakit Leptospirosis Diantisipasi di Kawasan Banjir di Pasuruan

Amaluddin    •    Jumat, 22 Dec 2017 20:29 WIB
banjir
Penyakit Leptospirosis Diantisipasi di Kawasan Banjir di Pasuruan
Tim gabungan mengarungi banjir di Pasuruan untuk mengevakuasi warga korban banjir, Rabu, 20 Desember 2017, dok: istimewa

Pasuruan: Pemerintah mengantisipasi kemunculan penyakit leptospirosis di lokasi terdampak banjir di Pasuruan, Jawa Timur. Tim gabungan lalu menyemprotkan karbol di lingkungan dan rumah untuk menghindarkan penyakit akibat bakteri Leptospira yang ditularkan melalui urine tikus itu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan Bakti Jati Permana mengatakan urine tikus bercampur dengan lumpur dan sampah yang terbawa banjir. Urine tikus mengandung Leptospira yang dapat mengganggu kesehatan. Bila terpapar bakteri, daya tahan tubuh melemah dan memudahkan penyakit lain muncul. Penderitanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, menggigil, diare, dan merasa nyeri.

Bakti mengatakan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi penyakit tersebut. Satu di antaranya dengan menyemprotkan karbol di lingkungan dan rumah warga.

“Alhamdulillah petugas gabungan dari kelurahan, kecamatan, dan lainnya tadi sudah menyemprot rumah warga,” kata Bakti melalui sambungan telepon kepada Medcom.id, Jumat, 22 Desember 2017.

Leptospirosis dikenal sebagai demam canicola, demam ladang tebu, atau demam 7 hari. Bakteri leptospira dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1 bulan. Bahkan leptospira juga bisa bertahan di tanah yang lembap, tanaman, maupun lumpur dalam waktu lama. 

“Umumnya laporan orang yang terkena leptospirosis terjadi setelah banjir. Makanya setelah ketinggian air terus surut, kami bergerak untuk melakukan penyemprotan utamanya bersihkan air kencing tikus,” katanya.

Banjir yang melanda kawasan barat Pasuruan terjadi setelah hujan mengguyur kawasan di Pegunungan Arjuna dan Penanggungan. Ribuan rumah terendam banjir dalam sepekan terakhir.

Menurut Bakti, banjir di Kecamatan Beji terjdi akibat Sungai Wrati meluap. Bukan hanya rumah, sawah seluas puluhan hektare pun terkena dampak. Sawah tak bisa ditanami.



(RRN)