Pembangkit Listrik Bertenaga Gas Buang Disosialisasikan di Tuban

   •    Jumat, 18 Aug 2017 19:11 WIB
semen indonesia
Pembangkit Listrik Bertenaga Gas Buang Disosialisasikan di Tuban
Direktur Enjiniring dan Proyek Semen Indonesia tengah menyosialisasikan proyek Pembangkit Tenaga Listrik Bertenaga Gas Buang di Tuban, dok istimewa

Metrotvnews.com, Tuban: PT Semen Indonesia menyosialisasikan penggunaan proyek pembangkit listrik bertenaga gas buang atau Waste Heat Recovery Power Generator (WHRPG) di Tuban, Jawa Timur. Pembangkit listrik itu bernilai investasi Rp638 miliar.

Direktur Engineering dan Project Semen Indonesia Aunur Rosyidi mengatakan proyek tersebut kerja sama dengan JFE Enginering Jepang. Proyeknya dibangun sejak 2014.

Pembangkit listrik itu mendapatkan sumber energi dari gas buang di Pabrik Tuban I dan IV. Kapasitas listriknya mencapai rata-rata 28 MW.

"Sebelumnya Semen Indonesia menggunakan teknologi sejenis di Pabrik Semen Padang di Indarung dengan kapasitas 8,5 MW dan telah beroperasi sejak 2011," kata Aunur dalam keterangan pers yang diterima Metrotvnews.com, Jumat 18 Agustus 2017.

Dengan pembangunan fasilitas WHRPG di Pabrik Tuban, Semen Indonesia mampu menghemat konsumsi listrik sebesar 152 juta KWH per tahun. Penghematan biaya listrik sebesar Rp120 miliar per tahun.

Selain efisiensi biaya listrik, pembangunan WHRPG membuktikan bahwa Semen Indonesia Group merupakan korporasi yang ramah lingkungan. 

“WHRPG di Pabrik Tuban mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 122.000 ton CO2 per tahun”, lanjutnya.  

Edwin Manangsang, Asisten Deputi Bidang Kerjasama Mulitilateral dan Pembiayaan dari Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian mengatakan sebagian pembangunan WHRPG di Pabrik Tuban dibiayai oleh pemerintah Jepang. Skemanya melalui skema Joint Crediting Mechanism (JCM). 

Joint Crediting Mechanism (JCM), merupakan inisiatif Pemerintah Jepang mendorong organisasi-organisasi swasta Jepang untuk berinvestasi dalam kegiatan pembangunan rendah karbon di Indonesia melalui insentif.

“Proyek WHRPG di Semen Indonesia adalah kerjasama bilateral antara Pemerintah Jepang dan Pemerintah Indonesia yang telah dirancang sejak 3,5 tahun yang lalu," ujar Edwin.

Implementasi proyek WHRPG  merupakan upaya nyata dari kegiatan mitigasi perubahan iklim untuk penurunan emisi di Indonesia. Hal ini harus menjadi contoh kegiatan di perusahaan lain bahwa aksi nyata perubahan iklim bisa dilakukan di Indonesia.

Edwin menambahkan teknologi yang digunakan dalam kegiatan ini terbilang bersih. Yaitu dengan memanfaatkan panas dari proses pembuangan limbah pabrik menjadi listrik.

"Perusahaan semen mendapat keuntungan dengan adanya listrik yang dihasilkan dan lingkungan pun menjadi lebih bersih karena berkurangnya pemakaian energi listrik dari PLN," ungkap Edwin.

Kegiatan Konsultasi Pemangku Kepentingan Lokal pada Rabu 16 Agustus 2017 merupakan prasyarat dari implementasi kegiatan penurunan emisi melalui skema JCM. Melalui kegiatan ini, Semen Indonesia serta Pemerintah Indonesia dan Jepang berharap bukan hanya mendapatkan masukan untuk implementasi pembangkit WHRPG secara berkelanjutan, tetapi juga menyebarluaskan keberhasilan kegiatannya pada pemangku kepentingan lokal dan media.

Dicky Edwin Hindarto, selaku Kepala Sekretariat JCM Indonesia mengatakan dari 29 proyek JCM yang telah dan sedang diimplementasikan di Indonesia, Proyek WHRPG di Semen Indonesia ini selanjutnya bisa menjadi acuan bagi mitigasi perubahan iklim di Indonesia.
 
Pembangunan WHRPG di Semen Indonesia merupakan proyek dengan investasi terbesar senilai 50 juta Dolar AS dengan subsidi dari pemerintah Jepang sebesar 11 juta Dolar AS. Total proyek yang dibiayai melalui skema JCM di Indonesia meliputi 29 proyek di berbagai sektor seperti: energi terbarukan, efisiensi energi di gedung, industri, dan manufaktur. 

Proyek-proyek ini selain mampu menurunkan emisi, diharapkan juga menjadi salah satu tolok ukur dalam upaya pencapaian kriteria pembangunan berkelanjutan dalam kegiatan mitigasi perubahan iklim. Hal ini karena setiap proyek JCM yang diterbitkan kredit karbonnya sebelumnya harus memenuhi kriteria pembangunan berkelanjutan yang dipersyaratkan. 


(RRN)