Pemprov Gandeng TNI dan Polri Lindungi Anak-anak di Jatim

Amaluddin    •    Minggu, 20 Nov 2016 13:54 WIB
kekerasan anak
Pemprov Gandeng TNI dan Polri Lindungi Anak-anak di Jatim
Anak-anak bermain bersama orangtua di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, MI - Ramdani

Metrotvnews.com, Surabaya: Kasus kekerasan seksual pada anak merupakan masalah serius. Di Jawa Timur, sebagian besar korban berusia mulai dari 14 hingga 16 tahun.

Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menganggap masalah itu tak bisa dianggap sepele. Lantaran itu, kata Gus Ipul, Pemerintah Provinsi Jatim mendeklarasikan gerakan anti kekerasan pada anak.

"Gerakan itu melibatkan para orangtua dan masyarakat harus melindungi anak-anak dari kasus kekerasan seksual," kata Gus Ipul saat menghadiri deklarasi gerakan tersebut di Institut Teknologi 10 November (ITS) Surabaya, Sabtu (19/11/2016) malam.

Baca: Hindari Kekerasan, Orangtua Diingatkan Peka dengan Perubahan Sikap Anak-anak

Umumnya, lanjut Gus Ipul, pelaku kekerasan seksual merupakan orang yang tak asing lagi bagi korban. Misal kerabat atau orang yang akrab dengan korban.

Bukan hanya deklarasi, Pemprov juga mengajak TNI Angkatan Darat dan Kapolda untuk mengawasi anak-anak. Satuan tugas bakal bermarkas hingga ke seluruh desa di Jatim.

Sementara itu Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jatim Kompol Yasinta mengatakan menerima laporan 672 kasus kekerasan pada anak dan perempuan di 2015. Ia memperkirakan jumlah tersebut bakal bertambah pada 2016.

"Hingga September saja, kami sudah menerima 600 laporan," kata Kompol Yasinta dalam acara talkshow di Surabaya, Jatim, Sabtu (19/11/2016) malam.

Yasinta mengatakan kasus kejahatan persetubuhan dan kekerasan mendominasi laporan. Kabupaten Malang pun menjadi lokasi dengan laporan paling banyak.

Menurut Yasinta, peningkatan laporan berbanding lurus dengan sosialisasi tentang kekerasan pada anak. Sehingga masyarakat mulai terbuka untuk melaporkan kasus kekerasan yang terjadi pada anak-anak mereka.

"Jadi tak perlu lagi takut atau malu untuk melaporkannya," ungkap Yasinta.



(RRN)