Polisi Antisipasi Kemunculan Grup Paedofil di Surabaya

Batur Parisi, Muhammad Khoirur Rosyid    •    Jumat, 17 Mar 2017 17:13 WIB
paedofil
Polisi Antisipasi Kemunculan Grup Paedofil di Surabaya
Ilustrasi kekerasan pada anak, Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Surabaya: Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, mengantisipasi kemunculan komunitas paedofil atau orang yang mempunyai selera seksual pada anak-anak. Misalnya, perilaku itu muncul dalam sosial media yang tengah diungkap Polda Metro Jaya.

Baca: Jaringan Paedofil Meluas

Beberapa waktu lalu, Polda Metro Jaya membekuk empat pelaku kasus kejahatan seksual terhadap anak yang diunggah ke grup Facebook Official Candy's Group. Akun grup itu dibuat pada September 2014 dengan jumlah anggota 7.497 orang. Berdasarkan penyidikan, terdapat 500 video dan 100 foto berkonten kekerasan terhadap anak.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polrestabes Surabaya AKP Ruthyeni mengakui tingkat kekerasan anak cukup tinggi. "Tapi tindak pidana yang mendominasi adalah kekerasan pada anak misalnya pencabulan dan pemerkosaan, yang didominasi pelaku perorangan," kata Ruthyeni di Surabaya, Jumat 17 Maret 2017.

Ruthyeni mengaku belum mencium kemunculan komunitas tersebut di Surabaya. Meski demikian, kata Ruthyeni, Polrestabes tetap membuka mata mengenali tindakan para paedofil.

Ruthyeni menegaskan paedofil merupakan orang yang memiliki kelainan seksual. Mereka memiliki khayalan dan tertarik untuk berhubungan dengan lawan jenis yang usianya lebih muda.

Batasi Anak Gunakan Gadget

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Banten Iif Syafruddin mengatakan pengungkapan kasus yang dilakukan Polda Metro Jaya itu semakin membuat para orang tua kian waspada. Jangan sampai, anak-anak menjadi korban apalagi pelaku.

Ia mencontohkan salah satu cara mewaspadai anak-anak yaitu membatasi penggunaan gadget. Sumber informasi melalui penggunaan ponsel dan media lainnya tak terbendung. Bila tak mampu menangkalnya, bukan tak mungkin anak-anak di era modern sangat gampang mendapatkan informasi itu. Termasuk, informasi mengenai pornografi dan kehidupan seks.

Menurut Iif, kesadaran dan pengetahuan orang tua penting untuk melindungi anak-anak. Bila terjadi sesuatu yang mengarah pada seks ke anak-anak, orang tua tak boleh membiarkan. Orang tua harus melindungi anak-anak misalnya melaporkan pengalaman itu ke polisi.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar pun menyampaikan aspek pencegahan atas kasus ini mencakup komitmen dari sejumlah pihak. Pihak keluarga diharapkan mampu memberi proteksi secara preventif kepada anak.

Sementara itu, penegakan hukum terkait kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak perlu menjadi atensi.

"Kita sudah punya undang-undang yang sudah dikuatkan. Ada perppu. Kita tahu kejahatan seksual terhadap anak akan mendapatkan hukuman lebih keras lagi. Kita tunggu proses sedang berjalan," kata Boy Rafli. 


(RRN)