Mahasiswa Tuding 7 Pimpinan OPD Sumenep Tak Kompeten

Rahmatullah    •    Kamis, 09 Nov 2017 12:04 WIB
reformasi birokrasi
Mahasiswa Tuding 7 Pimpinan OPD Sumenep Tak Kompeten
Mahasiswa saat adu dorong dengan polisi di pintu gerbang Kantor Pemkab Sumenep. Foto: MTVN/ Rahmatullah

Metrotvnews.com, Sumenep: Puluhan aktivis Mahasiswa Sumekar Raya (Mahasurya) berdemonstrasi ke kantor Pemerintahan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Kamis 9 November 2017. Mereka menuding tujuh pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak kompeten, sehingga pelayanan yang diberikan tidak maksimal.

Versi mahasiswa, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jawa Timur menemukan potensi penyimpangan anggaran sebesar Rp6,4 miliar dalam realisasi APBD tahun 2016. Sehingga bupati diharapkan segera mengevaluasi pimpinan OPD tersebut.

Bisri, koordinator aksi, menyebut pimpinan OPD yang perlu dievaluasi itu antara lain Inspektorat, Dinas Pendidikan, Disperindag, Satpol PP, Badan Perizinan dan Pelayaran Terpadu (BPPT) Satu Pintu, Dinas Perhubungan, Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) dan Badan Lingkungan Hidup (BLH). Dia mengungkapkan semua pimpinan instansi tersebut tidak kompeten di bidangnya.

“Selain dugaan potensi kebocoran anggaran, pelayanan di masyarakat juga sangat jauh dari harapan. Itu semua merupakan imbas pimpinan yang tidak professional,” teriak Bisri dalam orasinya.

Dia pun meminta bupati dan wakil bupati segera keluar menemui massa, dan mau menjelaskan pangkal persoalan yang terjadi. Karena tidak segera ditemui, massa akhirnya memaksa masuk pintu gerbang Pemkab Sumenep. Tapi pagar betis polisi yang jumlahnya lebih banyak, berhasil menghentikan dorongan mahasiswa.

Ketegangan mereda setelah beberapa perwakilan dari Pemkab Sumenep keluar menemui massa meski kehadiran sejumlah pejabat tersebut sempat ditolak. Berdasarkan penuturan perwakilan pejabat tersebut, bupati dan wakil bupati Sumenep sedang di luar kota.

Ketegangan kembali terjadi saat mahasiswa memaksa masuk untuk menyisir ruangan bupati dan wakil bupati. Mereka tidak percaya terhadap penuturan pejabat tersebut. Tapi lag-lagi upaya mereka gagal, karena barisan polisi tetap kuat sebab menang jumlah.

Akhirnya, mahasiswa membubarkan diri dan berjanji akan kembali dengan jumlah massa lebih banyak. Tapi sebelum meniggalkan lokasi, mereka terlebih dahulu melakukan salat jenazah sebagai simbol matinya nurani para pejabat. Lalu mereka pergi dengan berjalan mundur.


(SUR)