Sepanjang 2017, 382 Bencana Terjadi di Jawa Timur

Amaluddin    •    Sabtu, 09 Dec 2017 16:56 WIB
banjirbencanacuaca ekstrembencana alamkemarau dan kekeringan
Sepanjang 2017, 382 Bencana Terjadi di Jawa Timur
Banjir yang terjadi di Kabupaten Pacitan memutus sejumlah akses jalan. Foto: Metrotvnews.com / Amaluddin

Surabaya: Sejak Januari hingga Desember 2017 terjadi 382 bencana alam di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Jumlah itu menurun dari tahun sebelumnya sebanyak 486 bencana.

“Tahun ini menurun dari tahun lalu, karena tahu 2016 dampak cuaca La Nina,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, Sudarmawan, dikonfirmasi, Jumat, 8 Desember 2017.

Berdasarkan data BPBD Jatim, semua daerah di Jatim mengalami bencana alam, mulai musim kemarau sampai banjir. Dari 382 bencana itu, sebanyak 83 adalah bencana tanah longsor, kebakaran hutan 59 kejadian, kebakaran pemukiman 9, gerakan tanah 6, banjir rob 2 kejadian, banjir dan tanah longsor 6 kejadian.

“Daerah terbanyak mengalami bencana alam adalah Kabupaten Ponorogo sebanyak 40 kejadian,” kata Darmawan.

Kemudian daerah tertinggi kedua adalah Kabupaten Nganjuk 34 kejadian, Kabupaten Situbondo 23 kejadian, Kabupaten Pasuruan 21 bencana, Kabupaten Mojokerto 18, dan Kabupaten Jember 14 bencana.

Menurut Darmawan, sekitar 98 persen bencana yang terjadi di Jatim adalah bencana hidrometeorologi atau bencana yang dipengaruhi cuaca seperti banjir, longsor, puting beliung, dan gelombang pasang.  Sisanya sebanyak 2 persen adalah bencana geologi seperti tanah gerak, gempa bumi dan kekeringan. 

“Ada 141 kejadian banjir di 38 kabupaten/kota di Jatim di 2017,” kata Darmawan.

Daerah yang mengalami banjir terbanyak adalah Kabupaten Pasuruan sebanyak 21 kejadian, Kabupaten Mojokerto 12, Kota Pasuruan 10, Kabupaten Gresik 9, Kabupaten Nganjuk 8, dan Kabupaten Sampang 7 kejadian.  “Sementara daerah lainnya rata-rata 1-3 kali kejadian banjir selama 2017, salah satunya di Pacitan 4 kali banjir,” ujarnya.

Ada beberapa penyebab terjadinya banjir, di antaranya karena ada beberapa tanggul sungai jebol dan merembes. Kemudian, daya tampung sungai tidak memadai dan beberapa sungai tidak bertanggul, akibatnya air meluap saat hujan. 

"Misalnya, sungai di Bengawan Solo. Sepanjang 25 kilometer dari Rengel sampai Suko. Saat hujan air sungai naik, sehingga meluap dan banjir," ujarnya.

Selain itu, Alih fungsi penggunaan bantaran dan sempadan sungai juga menjadi penyebab. Misalnya di kawasan Bengawan Solo sisi Lamongan, ada sekitar 900 kepala keluarga (KK) bertempat tinggal di sana.
 
Pantauan BMKG, curah hujan akan terus meningkat antara Desember 2017 hingga awal 2018. 

BPBD Jatim memperkirakan bencana alam akan meningkat seiring peningkatan curah hujan, khususnya daerah rawan. "Kami imbau masyarakat tetap waspada," ujarnya.


(ALB)