JIAD: Pemerintah Jangan Anggap Enteng Intoleransi

Amaluddin    •    Senin, 29 Aug 2016 06:29 WIB
bom bunuh diri
JIAD: Pemerintah Jangan Anggap Enteng Intoleransi
Polisi memeriksa Gereja St Yosef. (AFP/Hakim Rangkuti)

Metrotvnews.com, Surabaya: Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) Jawa Timur mengecam aksi penyerangan di Gereja Santo Yosep Jalan Dr Mansyur, Medan, Sumatera Utara, Minggu, 28 Agustus 2016. JIAD pun menyatakan sikapnya terhadap pemerintah terkait kasus tersebut.

"Kami berpandangan ada eskalasi aksi intoleransi dan kekerasan terhadap kelompok minoritas agama, utamanya non-muslim. Untuk itu pemerintahan Jokowi untuk tidak menganggap enteng problem intoleransi dan radikalisme agama," kata Koordintaor JIAD Jatim, Aan Anshori, kepada Metrotvnews.com, Minggu (28/8/2016).

Berdasarkan catatan JIAD, sepanjang 2004 hingga 2010 terdapat 4.244 terjadi penyerangan dengan perusakan terhadap rumah ibadah. Sebagian besar penyerangan itu dialami gereja. Menurut Aan, potensi serupa bisa terjadi jika tidak ada aksi kongkrit dari pemerintah dan aparat. 

"Maka itu aparat hukum harus segera menangkap aktor intelektual dibalik serangan itu," pintanya.

Menurut Aan, peristiwa penyerangan terhadap rumah ibadah gereja di Sumatera bukan yang pertama. Peristiwa yang baru terjadi itu merupakan luka kedua setelah beberapa waktu lalu sekelompok warga merusak puluhan vihara dan gedung milik orang Tionghoa di Tanjung Balai Medan, Sumatera Utara.

"Aksi bom bunuh diri dengan sasaran gereja itu memantik kembali memori historik bangsa ini enam belas tahun lalu. Sebuah bom meledak saat natal di Gereja Eben Haezer Mojokerto dan menewaskan Riyanto, anggota Banser NU yang ikut mengamankan gereja tersebut," ujarnya.

Agar kasus serupa tak terulang, JIAD mendorong ormas islam seperti NU dan Muhammadiyah mengambil inisiatif melakukan dialog antar iman secara substantif. "Ormas islam harus ikut serta mengkampanyekan Islam ramah dan toleran bagi Indonesia," pungkasnya.

Sebelumnya, seorang remaja berinisial IAH, 17, mencoba meledakan bom bunuh diri di rumah ibadah Santo Yosef, Jalan Dr Mansyur, Kota Medan, Sumatera Utara, namun gagal.

Sebelum meledakan bom, IAH lebih dulu menyerang pemuka agama Albert S Pandingan yang sedang berkhotbah di depan mimbar.  IAH menghampiri Albert sambil membawa sebilah pisau dapur dan menggendong bom yang dirakit dengan pipa kuning.

Albert terkena sabetan pisau di lengan kirinya. Namun, jemaat yang tengah beribadah langsung membekuk pelaku dan menyerahkannya ke polisi. Bom yang dibawa IAH tak sempat meledak.


(LDS)