Sejak Majapahit, Kayangan Api di Bojonegoro tak Pernah Padam

Amaluddin    •    Jumat, 09 Sep 2016 16:07 WIB
fenomena alam
Sejak Majapahit, Kayangan Api di Bojonegoro tak Pernah Padam
Pengunjung mendatangi Kayangan Api, api abadi, di Bojonegoro, MTVN - Amaluddin

Metrotvnews.com, Bojonegoro: Sumber api abadi bukan sekadar legenda. Di Bojonegoro, Jawa Timur, warga dapat melihat langsung api yang berkobar tanpa pernah padam.

Bojonegoro berjarak 259 Km dari Surabaya, ibu kota Jatim. Butuh waktu kurang lebih tiga jam dari Surabaya untuk menjangkau pusat kabupaten tersebut.

Memasuki Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, pemandangan hutan jati memanjakan mata. Pohon jati hijau dan rindang menambah sejuk suasana jalur menuju Kayangan Api.


(Pintu gerbang menuju Kayangan Api, api abadi, di Bojonegoro, MTVN - Amaluddin)

Ya, demikian warga setempat menyebutkan nama sumber api abadi tersebut. Kayangan Api populer sebagai sumber api alam. Gas alam yang menyembur dari tanah menyulut api. Sehingga api terus menyala. Meski hujan mengguyur, suluh tak pernah padam.

Juli, juru kunci Kayangan Api, menuturkan sejarah di balik kobaran api. Kayangan Api tak lepas dari sejarah Kerajaan Majapahit di Nusantara. Konon, Empu Supo atau Mbah Kriyo menempa pusaka Kerajaan Majapahit di kobaran api tersebut.

"Empu Supo adalah orang kepercayaan Kerajaan Majapahit bertugas membuat senjata. Misalnya keris, pedang, tombak. Kayangan Api itu juga tempat Empu Supo bersemedi," kata Juli, saat Metrotvnews.com berkunjung.

Tak jauh dari Kayangan Api, atau sekitar 300 meter sisi barat, terdapat kubangan lumpur. Dalam kubangan itu terdapat air mendidih dan mengeluarkan bau belerang. Di situlah, lanjut Juli, Empu Suko membasuh pusakanya.


(Kubangan lumpur yang menjadi tujuan wisata di sekitar Kayangan Api di Bojonegoro, MTVN - Amaluddin)

Zaman berganti. Kayangan Api menjadi lokasi wisata. Warga Bojonegoro maupun di luar daerah berdatangan. Mereka hendak membuktikan dengan mata kepala sendiri soal 'kehebatan' Kayangan Api.

Ada pula pengunjung yang tak sekadar berwisata. Beberapa warga datang untuk berhajat misalnya enteng jodoh, usaha lancar, bahkan meraih kedudukan jabatan. 

"Tapi umumnya pengunjung hanya datang berfoto-foto di sekitar Kayangan Api, dan di titik sumber api abadi," katanya.

Saat Metrotvnews.com mendatangi lokasi, beberapa pengunjung berkumpul di sekitar tumpukan batu. Di dalam lingkaran tumpukan, api menyembur. Pengunjung berswafoto mengabadikan fenomena alam tersebut. Sesekali mereka masuk dalam lingkaran bebatuan, melintasi bebatuan tempat sumber api abadi itu untuk berfoto.

Mereka melintas sebanyak dua kali, dan harus kembali ke titik asal di mana memulai melintasi bebatuan tersebut. Sebab, jika tidak, konon ada kepercayaan bahwa pengunjung tidak akan bisa pulang jika menyeberang hanya sekali, dan tidak kembali ke titik asal.

Budi Suntoso, salah satu pengunjung, mengaku tertantang untuk melintasi bebatuan dengan api menyala itu. Rasa takut, was-was, dan senang dirasakannya. Namun, menurut Budi, ada hal yang aneh setelah dirinya melintasi bebatuan tersebut.
 
"Badan saya terasa enteng, seakan rasa capek, pegal-pegal, hilang seketika setelah melintasi bebatuan itu," kata pemuda asal Surabaya itu.

Senada juga dikatakan Farid, pria asal Gresik itu mengaku merasakan tubuhnya fresh setelah melintasi bebatuan itu. Padahal, kata dia, dirinya hanya penasaran ingin mencoba melintasi bara api itu. 

"Seperti diterapi," ungkap Farid.

Berbekal kepopuleran itu, warga sekitar pun menjadikan Kayangan Api sebagai salah satu tujuan wisata. Beberapa pendopo dan tempat jananan dibangun di sekitar api abadi.

Hingga saat ini, belum ada yang mengetahui pasti apa penyebab munculnya api tersebut. Kepala Bidang Pengembangan Usaha Seni dan Budaya Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparta) Bojonegoro, Budiyanto, mengatakan Tim dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan sempat terjun ke lokasi untuk menindaklanjuti perihal tersebut. 

"Kami juga belum tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi di area Kayangan Api ini, perlu adanya penelitian untuk mengetahuinya. Tapi sampai saat ini belum ada orang yang meneliti," kata Budiyanto.

Kayangan Api, kini tak sekadar menjadi tempat wisata melihat api abadi. Pengunjung dimanjakan pemandangan alam bebas. Pengunjung bisa melakukan kegiatan bernuansa alam misalnya outbound, dan lainnya.

Sayang, akses menuju Kayangan Api tidak lancar. Jaraknya cukup jauh dari pusat Kota Bojonegoro, sekitar 15 Km. 

Jalan tak memadai. Penerangan minim sehingga pengendara yang berkendara di malam hari harus berhati-hati. Selain itu, suasana hutan yang lebat menjadi salah satu 'tantangan' pengendara.


(RRN)