Din Syamsuddin Minta Ijtima Ulama tak Lahirkan Konflik

Daviq Umar Al Faruq    •    Jumat, 03 Aug 2018 13:37 WIB
pemilu
Din Syamsuddin Minta Ijtima Ulama tak Lahirkan Konflik
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin saat di Malang, Jumat 3 Agustus 2018, Medcom.id - Daviq

Malang: Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin mengatakan perbedaan pendapat pada ijtihad ulama itu hal yang wajar. Termasuk, ijtihad menentukan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dalam Pemilihan Umum 2019.

"Ulama diharapkan bisa memberikan pencerahan. Apabila ada ijtihad yang berbeda itu wajar saja. Baik di kalangan ulama atau di kalangan manapun pasti ada perbedaan pendapat," katanya di Malang, Jumat 3 Agustus 2018.

Din menyampaikan perbedaan tersebut harus disikapi dengan baik. Selain itu, dia mengimbau agad seluruh umat islam di Indonesia perlu menyikapi dinamika politik Pilpres ini dengan niat yang baik, hati yang jernih dan juga pikiran yang cerdas. 

"Seorang ulama cenderung pada A lalu ulama yang lain cenderung pada B itu sangat wajar. Yang penting jangan berkonflik dan jangan memberikan judgement, penilaian yang absolut apalagi dengan labelisasi yang bersifat pejoratif," bebernya.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menambahkan Pilpres adalah sebuah ajang untuk memilih pemimpin yang akan memimpin kehidupan bangsa. Sehingga diharapkan pemimpin tersebut bisa membawa aspirasi umat islam di Indonesia.

"Namun pesan saya dalam menyikapi proses politik itu jangan terjebak pada hitam putih. Sebab yang putih itu belum tentu putih dan yang hitam itu belum tentu hitam. Lihatlah segala sesuatu itu dalam keutuhannya," ungkapnya.

Din menilai kubu capres Presiden Joko Widodo maupun Prabowo Subianto memiliki potensi kebaikan bagi bangsa, dan umat islam Indonesia. Sehingga dia tak sepakat bila kedua kubu tersebut hanya dilihat secara hitam dan putih saja.

"Seorang manusia itu punya peluang untuk berubah. Orang yang sekarang baik bisa menjadi tidak baik. Orang yang sekarang tidak baik bisa menjadi baik. Saya tidak sepakat kalau hanya dilihat secara hitam dan putih saja," pungkasnya.


(RRN)