RS Siti Khodijah Sembrono Diduga Menyuntik Mayat

Syaikhul Hadi    •    Senin, 29 Jan 2018 14:12 WIB
malapraktik
RS Siti Khodijah Sembrono Diduga Menyuntik Mayat
Keluarga pasien Supariyah. Medcom.id/Hadi

Sidoarjo: Dugaan malapraktik terjadi di Rumah Sakit Siti Khodijah Sidoarjo, Jawa Timur. Rumah sakit dianggap lalai memberikan pertolongan, sehingga nyawa seorang pasien tak tertolong.

Kasus di RS Siti Khodijah ramai di media sosial. Video berisi keluarga pasien menumpahkan amarah kepada dokter dan suster di rumah sakit itu viral. Rekaman berdurasi 03.11 menit.

Keluarga pasien menduga suster berlaku sembrono. Dia berani menyuntik pasien yang sudah tak bernyawa alias wafat. Korban bernama Supariyah, 40, asal Jalan Suningrat, Desa Ketegan Kecamatan Taman Sidoarjo. 




Menurut Abu Daud, 41, anak korban, mengatakan, kejadian bermula saat keluarga mengantar Supariyah ke rumah sakit pada Rabu, 20 Desember 2017, sekitar pukul 04.30 WIB. Saat itu, korban mengeluh pusing kepala dan sedikit mual. 

"Ibu saya langsung dibawa ke UGD dan ditangani dokter tugas yang kemudian menyuntik dan diberi resep dokter untuk membeli obat di apotek," kata Abu ditemui di rumahnya, Senin, 29 Januari 2018. 

Menurut pihak rumah sakit, pasien harus menunggu reaksi antara 30-40 menit setelah diberi suntikan. Tak lama, kondisinya sempat membaik. Dan pasien dipersilakan pulang. Tapi sekitar pukul 10.00 WIB, kondisi pasien memburuk. 

"Kondisinya kembali lemas dan muntah-muntah. Akhirnya keluarga sepakat kembali merujuk ibu ke rumah sakit agar dirawat inap," jelas Abu. 

Sempat ditolak karena BPJS

Keluarga korban kembali membawa korban ke rumah sakit, namun piha RS menyatakan kamar sudah penuh. Kemudian kakaknya (Faisal) sempat menanyakan kepada perangkat desa terkait fasilitas BPJS. Namun, perangkat meminta agar pasien dirujuk dengan menggunakan pasien umum. 

"Setelah itu, kami menghubungi rumah sakit untuk memesan kamar dengan menggunakan umum. Alhamdulillah menurut rumah sakit masih ada yang kosong satu kamar," ungkap Abu menjelaskan. 

Sesampainya di rumah sakit, keluarga sempat tak diperbolehkan masuk, namun keluarga tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya merupakan pasien umum dan sudah memesan kamar. Spontan petugas langsung menerima pasien. Pasien masuk ke ruangan paviliun Multazam 08 sekitar pukul 11.30 WIB. 

"Setelah masuk, baru diinformasikan dari rumah sakit  bahwa yang akan menangani pasien adalah dokter Zakaria (spesialis penyakit dalam) dan Dokter Hamdan (penyakit syaraf)," jelasnya. 

Dokter tak kunjung datang

Usai masuk ke kamar, pasien masih menunggu kehadiran dokter. Namun hingga petang dokter tak ada yang melayani. Awalnya pasien menunggu di ruang IGD. Baru setelah pukul 14.45 WIB pasien dikembalikan ke kamarnya. 

"Kami dijanjikan, bahwa pasien akan diperiksa pada pukul 17.00 WIB. Hingga pukul 23.00 WIB tetap saja tidak ada dokter yang datang," kata Abu. 

Hingga esok harinya, keluarga terus menunggu kedatangan dokter. Sekitar pukul 14.30 WIB, dokter spesialis penyakit dalam, Zakaria, datang untuk memeriksa. Dalam pemeriksaannya, dokter menyatakan bahwa pasien terganggu pada syaraf tenggorokan. Sehingga tidak bisa menerima makanan. 

"Bukan kapasitasnya untuk melakukan pemeriksaan. Karena yang berhak memeriksa adalah dokter Hamdan, spesialis syaraf," kata Abu menirukan pernyataan dokter Zakaria kepada keluarga korban. 

Pasien yang semakin kritis, hanya dilakukan penyuntikan oleh suster. Hingga pukul 20.00 WIB, dirinya dan kakaknya langsung memprotes keberatan kepada pihak suster piket. "Tolong sampaikan kepada pimpinan dan dokter Hamdan apabila terjadi apa-apa kepada ibu saya sebelum dokter datang, kalian semua akan kami tuntut," ujar Abu. 

Sekitar pukul 21.00 WIB, dokter Hamdan tak juga datang. Namun suster masih melakukan penyuntikan tanpa melakukan pengecekan. "Kami curiga, karena saat disuntik, ibu saya enggak bergerak. Setelah saya cek pergelangan tangannya, ternyata sudah tidak ada denyut nadinya," terang Abu Daud. 

Humas RS Siti Khodijah, Emmy Hudayanti, mengatakan akan menggelar pers konferensi pada Selasa, 30 Januari 2018 besok. "Jumpa persnya hari Selasa ya," singkat Emmy. 


(ALB)